Selamat Pagi, Sahabat Sekami!
Bagi saya (maaf), Indonesia boleh dibagi
secara artifisial menjadi dua dunia. Katakanlah dunia politis dan sosiologis.
Kalau teman-teman membaca koran halaman politik hari-hari ini, yang tersaji tentang
Indonesia tak lain adalah dunia yang warna dominannya adalah kelam kelabu. Sebaliknya,
Indonesia yang bewarna utama cerah cemerlang, sepertinya hanya terbentang di ranah sosiologis.
Sebuah
kegiatan yang digagas oleh Komisi KKI dan JPIC Keuskupan Ruteng, minggu lalu (22-24 November 2013), dengan tema besar 'Ekologi dan Jurnalistik', secara pribadi seolah-olah menyadarkan saya bahwa Indonesia, khususnya gereja Katolik, masih menyimpan optimisme, meski harapan itu dimiliki oleh anak-anak, remaja, dan kaum muda lainnya. Bahwa ternyata, gereja Katolik mampu memberi sumbangsih dan karya nyata bagi Indonesia.
Kesan yang muncul di akhir kegiatan adalah kisah-kisah inspirasi, tentang sebuah pembiasaan diri terhadap hal-hal baik, entah itu terhadap lingkungan maupun aktivitas menulis. Terlepas dari sifatnya
yang sekadar training singkat, kegiatan ini bisa dipakai untuk membaca
situasi kehidupan gereja dan anak-anak di Indonesia, khususnya Ruteng, dalam proses hidup bersama alam dan lingkungan.
Saya teringat akan kisah salah satu pastor yang membaktikan hidupnya untuk kegiatan pelestarian lingkungan di Kalimantan. Ialah Pastor Samuel Oton Sidin yang tergerak untuk memulihkan
lahan kritis di Pontianak.