Every day, God thinks of you. Every hour, God looks after you. Every minute, God cares for you. Because, every second He loves you.
RSS

Selasa, 29 Oktober 2013

Menyirami Kesabaran, Memetik Keteduhan

Di hampir semua tradisi, ada banyak manusia yang menggunakan alam sebagai bahan utama dalam berkarya. Tidak semua orang cocok dengan pendekatan ini. Namun, bagi siapa saja yang memiliki pikiran terbuka, hati yang peka, serta batin yang kaya rasa, akan tahu ada banyak bahan pertumbuhan yang tersedia di alam sana. 

Ada banyak bibit di dalam diri manusia. Ada bibit kebodohan, keserakahan, kemarahan, iri hati, dendam. Ada juga bibit kesabaran, kasih sayang, cinta, memaafkan, dan bahkan persahabatan. Pertanyaan berikutnya, bibit-bibit mana yang kita sirami setiap harinya?

Kita yang intensif bergumul dengan media (cetak, radio, televisi, internet, dan lain-lain) di awal abad ke-21 ini akan merasakan bila bibit-bibit kemarahan dan dendamlah yang paing banyak disirami manusia kebanyakan. Perhatikan apa yang disebut ‘berita’ oleh orang-orang media. Nyaris semuanya menyulut dendam dan kemarahan. Aspek-aspek kejadian yang membawa keteduhan dan kesejukan, masuk dalam klasifikasi ‘bukan berita’. Apalagi jika sudah berbicara rating.

Dan bila kemudian kehidupan, khususnya aspek spiritualitas menggereja ditandai oleh banyak kebakaran tentu karena kita ‘menyepakati’ pengertian berita yang amat membakar. Dalam kerangka itulah, KKI Keuskupan Ruteng bekerja sama dengan Mas Anang Tinosaputra (inspirator dan marketing consultant) dan Mas Heldy Ardiansyah (professional outbond trainer dan aktivis Mudika Keuskupan Denpasar) sebagai fasilitator, membuat sebuah terobosan pendampingan bagi para animator/animatris Sekami dan aktivis gereja se-Keuskupan Ruteng melalui sebuah kegiatan character building training selama 3 hari.


Kegiatan character building training dengan tema besar Heroic Leadership 3.0: Leader Without Titles (materi bisa didownload di link saya, Heroic Leadershipini diselenggarakan di Wae Lengkas, sebuah daerah pegunungan yang sangat eksotik, dengan jarak tempuh sekitar 30 menit dari kota Ruteng. Kegiatan yang diselenggarakan pada tanggal 25-27 Oktober 2013 lalu, melibatkan berbagai kalangan sebagai peserta. Mulai dari calon pastor, bruder, suster, para penggerak Sekami dan Mudika, hingga para penggerak credit union di lingkup Keuskupan Ruteng.

Kegiatan training yang memadukan indoor training dengan aktivitas outbond ini, dari awal hingga akhir sangat membutuhkan kekuatan pikiran, fisik dan hati. Dengan kata lain, dibutuhkan kemampuan dari setiap peserta dalam mengelola fisik, pikiran, dan hati (emosi) dalam training ini. Dan terbukti, tidak semua peserta bisa melewati semua proses training hingga akhir. Dari jumlah awal peserta sebanyak 36 orang, pada akhirnya hanya 35 peserta yang mampu menyelesaikan proses training hingga hari terakhir.

Dan seperti yang disampaikan fasilitator di awal training, bahwa hidup adalah pilihan, dan selalu ada harga yang harus dibayar atas apa yang kita pilih dan putuskan. Ini sejalan dengan pilihan-pilihan hidup peserta dalam karya mereka bagi gereja dan orang-orang yang mereka kasihi. Siapa yang lunak dengan dirinya sendiri, maka hidup ini akan keras pada mereka. Dan barang siapa keras (kuat dan disiplin) dengan dirinya sendiri, maka hidup ini pun akan ramah pada mereka.

Hari pertama training, lebih banyak terfokus pada indoor training. Meskipun demikian, juga bukan sesuatu yang mudah, karena membutuhkan fokus, dan terpenting kemauan serta listening skill dari semua peserta. Dan justru pada proses awal inilah, salah satu peserta menyerah dan memilih untuk mundur dari proses training ini.

Di hari pertama ini, Mas Anang mengajak peserta untuk memikirkan ulang strategi ‘memasarkan’ gereja di tengah pesatnya perkembangan hidup manusia saat ini, beserta segala kompleksitas hidup menggereja. Ide besar tentang bagaimana gereja harus lebih horizontal, dimana trinitas bukan lagi sekadar pemahaman tentang Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus, namun juga tentang Tuhan, gereja, dan manusia (termasuk alam di dalamnya), dimunculkan oleh Mas Anang sebagai sebuah konsep re-thinking and re-marketing church. Indahnya, konsep ini didasarkan dan dikombinasikan dalam konsep Love Marketing.

Love Marketing ini adalah dasar dan diharapkan menjadi reason for being bagi siapapun, khususnya peserta dalam berkarya dalam nama Tuhan dan bagi gereja. Konsep ini mencakup 8 prinsip dasar, yaitu: Love Is Giving, Love Is Conversation, Love Is Listening, Love Is Sharing, Love Is Caring, Love Is Empathy, Love Is Trust, dan terakhir Love Is Friendship. Konsep love marketing inilah yang diyakini oleh Mas Anang bisa melahirkan pemimpin-pemimpin baru bagi gereja dan masyarakat. Pemimpin yang berkelimpahan cinta, dan mampu melayani serta berkorban layaknya Yesus.

Sesi berikutnya tidak kalah dahsyat. Mas Anang sekali lagi menjelaskan tentang konsep Heroic Leadership 3.0: Leader without Titles. Sebuah model kepemimpinan di era horizontal, yang berfokus pada piramida 6 atribut dasar kepemimpinan (six powerful attributes), yaitu:
1.       Physicality (Physical Quatient)
2.       Intellectuality (Intelligence Quotient)
3.       Sociability (Emotional Quotient)
4.       Emotionality (Emotional Quotient)
5.       Personability (Spiritual Quotient)
6.       Moral ability (Spiritual Quotient)

Melalui konsep ini, para peserta diajak untuk memikirkan ulang tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang komplet, bukan sempurna. Pemimpin yang tidak sekadar menarik secara penampilan fisik, cerdas secara intelektual, namun yang lebih esensial adalah pemimpin yang mampu mengelola sisi emosionalnya sebagai individu, maupun komunitas, dan tentu saja dibekali dengan kesadaran diri dan moralitas yang cukup untuk memahami akan esensi dari memimpin. Hal tersebut sangat ditekankan dalam training ini, karena saat ini begitu banyak leader, namun tidak mempunyai leadership. Sesi indoor training ini, menjadi semakin menarik dan inspiratif dengan ditampilkannya beberapa video inspiratif yang disesuaikan dengan setiap topic pembicaraan.

Hari kedua, peserta diajak untuk lebih banyak beraktivitas di alam. Dengan lokasi sekitar basecamp yang sangat eksotik dan menantang, peserta diajak untuk berkeliling melalui jalur yang sudah ditentukan, dengan dilengkapi game yang tidak sekadar menguras energi, mempermainkan emosi, namun juga kreativitas. Dengan rute lebih kurang 10 km mengelilingi area sekitar basecamp, peserta justru sangat menikmati setiap tantangan dan game yang diberikan oleh Mas Heldy sebagai instruktur outbond. Benar-benar passionate people…

Dengan bekal pengalaman dan profesionalitasnya, Mas Heldy mampu menampilkan game dan tantangan yang kontekstual dan connected dengan materi indoor training hari sebelumnya. Seluruh peserta, tanpa terkecuali terlibat secara aktif dalam seluruh kegiatan outbond yang pada akhirnya ditutup dengan hujan deras, sesaat setelah peserta kembali ke basecamp. Sungguh karya dan rencana Tuhan yang sangat indah.

Kembali ke basecamp, bukan berarti waktunya beristirahat bagi peserta, karena sesi berikutnya sudah menunggu. Peserta diajak mengevaluasi seluruh rangkaian kegiatan outbond, karena semua aktivitas outbond punya nilai dan dinilai. Setiap keberhasilan selalu ada penghargaan yang mengiringi, dan tentu saja setiap kegagalan atau kesalahan selalu diikuti dengan sanksi yang siap menanti.

Tanpa memberi kesempatan peserta untuk beristirahat, bahkan sekadar untuk bersih badan sekalipun, kedua fasilitator langsung mengajak seluruh peserta untuk mengikuti sesi berikutnya, yaitu Leaning by Movie. Yups... peserta diajak untuk menikmati dan belajar tentang esensi menjadi pemimpin, melalui sebuah film lama, The Mission (1986). Sebuah film sarat makna, yang dibintangi oleh aktor kawakan Robert De Niro, dengan durasi sekitar 2 jam. Film yang diangkat dari kisah nyata para misionaris Jesuit dalam menyebarkan kasih ajaran Tuhan di pedalaman Amerika Selatan (Argentina, Paraguay, Brasil) sekitar tahun 1750 ini, menyuguhkan bagaimana nilai-nilai dan karakter seorang pemimpin, melalui sebuah perjuangan karya misi, dan mampu membius semua peserta untuk masuk dalam setiap persoalan dan cerita di dalamnya.

Aktivitas hari kedua akhirnya ditutup dengan makan kebersamaan, dan malam kreativitas. Dimana setiap peserta terlibat dan menunjukkan keinginan mereka menanggalkan ke-‘aku’-an mereka, untuk kemudian melebur menjadi satu komunitas dan keluarga, tanpa batasan apapun.

Minggu dini hari menjadi puncak dari seluruh aktivitas training ini. Dimana kedua fasilitator, tidak sekadar menunjukkan namun juga memberi teladan tentang esensi utama sebuah kepemimpinan, yaitu pelayanan. Pelayanan tanpa batas, dan didasari oleh cinta. Istilah Mas Anang di saat itu, we make people before we make service... Sungguh great ending dari sebuah proses belajar pembentukan karakter manusia.

Sunguh ini bukan sekadar training, demikian kata Sr. Gabriella, CB sebagai pencetus ide training ini, sekaligus sebagai Direktur KKI Keuskupan Ruteng, di akhir acara sebelum misa penutupan. Ini bukan sekadar pertemuan proses belajar mengajar. Ini bukan sekadar berbagi ilmu pengetahuan. Ini adalah pertemuan impian dengan kebutuhan, yang berbasis CINTA...

Pertanyaan eksistensial pun kemudian mucul: ‘Bagaimana seharusnya manusia (khususnya Katholik) memainkan peran strategisnya di tengah masyarakat yang masih underdeveloped seperti di Keuskupan Ruteng ini?’

Akhirnya, melalui tulisan ini, kami sebagai fasilitator berusaha menemukan dan merumuskan big idea bagi teman-teman peserta, dan mungkin juga gereja secara umum, terkhusus Keuskupan Ruteng. Ide besar itu berupa 4 formula berikut ini. Semoga formula ini bisa menjadi guiding principles (meminjam Prof. Prahalad) dari apa yang saya sebut dengan ‘Church Marketing at the Bottom of the Pyramid (BOP)’.

#Vision Is about to Be a Partner
Para aktivis dan penggerak gereja, sering terjebak dengan kondisi yang memudahkan mereka untuk menjadi sukses atau bahkan sekadar bertumbuh, dalam menentukan impian mereka ke depannya. Seringkali mereka dihadapkan pada kondisi untuk menjadi yang terbaik atau tidak terkalahkan oleh pesaing. Ini memang bukan soal salah benar, karena setiap kita, memang harus mencari dan menemukan rumusan what to be-nya setinggi mungkin.

Tapi bagi saya, dengan kondisi masyarakat Ruteng dan sekitarnya, saya lebih sreg jika kita semua di tempat ini menempatkan diri sebagai partner, bahkan lebih jauh sebagai seorang sahabat (teman). Kenapa? Karena setiap saat kita bisa dan harus hadir dalam persoalan hidup masyarakat di sana. Dan para peserta training kemarin punya modal besar untuk menjalankan hal tersebut, karena gereja is love marketing. Itu kenapa kami berani katakan kepada peserta dalam training ini, bahwa visi terbesar kita adalah be a partner, be a friend.

#Mission Is about Transforming
Dalam kesempatan training kemarin, kami katakan berkali-kali bahwa church marketing itu bukan bentuk eksploitasi terhadap masyarakat sebagai konsumen. Kami tidak setuju dengan anggapan bahwa marketing menempatkan konsumen sebagai target dan obyek penderita yang siap diperas madunya dan setelah itu dienyahkan. Church marketing haruslah menampakkan wajah humanisnya dengan menjadi sahabat, partner, hingga problem solver bagi persoalan-persoalan aktual yang dihadapi masyarakat. Dan wajah-wajah humanis tersebut sudah ditampilkan oleh peserta sebagai seorang marketer-nya gereja Katholik, minimal dalam lingkup Keuskupan Ruteng.

Apa persoalan aktual yang dihadapi oleh konsumen BOP (masyarakat di Ruteng) di sana? Persoalan utamanya adalah mentransformasi diri menjadi masyarakat yang semakin baik, semakin maju, semakin pintar, semakin well-informed, semakin makmur, semakin berdaya, dan semakin bijaksana dalam hidupnya. Jika teman-teman peserta kemarin (dan juga gereja) mampu menjadi partner dan enabler bagi masyarakat dalam mentransformasi diri, maka brand gereja yang dibangun akan menjadi sangat powerful dan begitu dicintai masyarakat.

Karena itu saya mengatakan, misi terbesar teman-teman peserta dan juga gereja di sana adalah transforming their life not exploiting their market.

#Strategy Is about Empowering
Menggarap dan mengembangkan masyarakat seperti di Ruteng, tidak bisa hanya dari sisi demand (mereka sebagai konsumen). Kenapa? Sesungguhnya masyarakat ini bisa dikatakan ‘tidak membutuhkan’ atau ‘tidak meminta’ layanan dan perhatian yang muluk-muluk gereja. Kok bisa? Ya, karena mereka ini sebenarnya lebih melihat dari sisi supply, mereka ini sebagian besar adalah amateur micro-entreprenuer. Itu kenapa kami katakan mereka ini butuh teman, butuh sahabat, butuh partner yang bisa membuka pandangan, mengubah pola pikir, dan meng-empower kemampuan mereka dalam merumuskan dan merencanakan hidup yang lebih baik.

Dengan pendekatan holistik semacam ini, mereka tidak diposisikan sebagai ‘korban’ tetapi pemain aktif yang mampu meng-empower dan mengentaskan diri dari belenggu ‘kemiskinan dan keterbelakangan’. Bukan kemiskinan dan keterbelakangan finansial, karena secara finansial mereka cukup powerful. Tapi kemiskinan dan keterbelakangan dalam menentukan dan memformulasikan masa depan hidup mereka. Begitu mereka berdaya dan mampu mengentaskan diri dari kemiskinan dan keterbelakangan ini, maka taraf kehidupan akan meningkat, lebih terencana, dan akhirnya potensi hidupnya pun juga akan membesar.

Karena itu strategi yang dibangun untuk mengembangkan masyarakat ini harus inheren melibatkan proses pemberdayaan untuk menciptakan micro-entreprenuer sebanyak mungkin di Keuskupan Ruteng. Ini alasan kenapa kami mengatakan, strategi jitu untuk membangun masyarakat Ruteng pada umumnya adalah empowering their economy not just commercialization.

#Tactic Is about Educating
Untuk mewujudkan ­visi be a partner, be a friend, misi transforming, dan strategi empowering di atas, maka di tingkat taktik dan program, para aktivis gereja (khususnya peserta training kemarin) mestinya harus lebih sering menggunakan kata kunci, edukasi. Mereka adalah konsumen yang masih belum berkembang (underdevelop) sehingga edukasi-asistensi harus mewarnai setiap program kerja yang dijalankan ke masyarakat Keuskupan Ruteng. Edukasi-asistensi tidak hanya sebatas mengenai aturan dan layanan yang sudah ada di gereja, tapi juga harus customer-centric menyangkut segala aspek permasalahan sosial-ekonomi yang mereka hadapi sehari-hari. Karena itu kami mengatakan bahwa, taktik cespleng untuk mengembangkan masyarakat di Ruteng adalah educating not just selling.

Mengikuti dan apalagi kemudian merumuskan keempat rumusan church marketing at BOP ini kok rasanya repot dan sulit banget ya?
Benar, sahabat!

Tapi perlu diingat, seperti yang kami sampaikan dalam training, begitulah kompetisi. Ketika kita menuai sukses karena mampu melakukan hal yang sangat sulit dan kompetitor tidak mampu melakukannya, maka kita akan menjadi pemenang dan kompetitor menjadi pecundang.

Apakah formula ini menjadi jaminan keberhasilan?

Kisah dan pengalaman yang kami sampaikan tentang begitu banyaknya aktivis gereja yang berpaling keyakinan, dan ‘meninggalkan’ Tuhan, tentu menjadi pelajaran berharga bagi kita semua, untuk tidak ada salahnya mencoba formula yang kami tawarkan. Bukankah tugas yang diberikan oleh Tuhan untuk kita sebagai manusia, hanya belajar dan berusaha? So, kenapa mesti takut untuk mencoba?

Catatan ringan dari proses training ini, tentu adalah kesaksian bahwa banyak sekali manusia yang sudah disirami secara sejuk dan teduh oleh kasih Tuhan. Dan sebagaimana yang dialami oleh para peserta training, ia yang menyirami hatinya dengan banyak kesejukan dan keteduhan, kesabaran, pengorbanan, persahabatan, ketulusan, memaafkan, cinta serta kasih sayang, akan menuai keteduhan dan kesejukan dalam kehidupan.

The God’s message doesn’t change, but the methods are ever-changing... Character Building Training – Heroic Leadership ini hanyalah bagian kecil dan awal dari perjuangan kita mewartakan kebaikan dan kasih bagi sesama, perjalanan yang lebih besar dan penuh tantangan di kehidupan nyata, telah dan terus menanti kehadiran kita...

Sampai jumpa, sahabat!
Think Big, Be Different, and Start Small...

0 komentar:

Poskan Komentar