Every day, God thinks of you. Every hour, God looks after you. Every minute, God cares for you. Because, every second He loves you.
RSS

Senin, 25 November 2013

Ketika Pena Menyirami Alam, Itulah Perayaan Kehidupan

Selamat Pagi, Sahabat Sekami!

Bagi saya (maaf), Indonesia boleh dibagi secara artifisial menjadi dua dunia. Katakanlah dunia politis dan sosiologis. Kalau teman-teman membaca koran halaman politik hari-hari ini, yang tersaji tentang Indonesia tak lain adalah dunia yang warna dominannya adalah kelam kelabu. Sebaliknya, Indonesia yang bewarna utama cerah cemerlang, sepertinya hanya terbentang di ranah sosiologis.

Sebuah kegiatan yang digagas oleh Komisi KKI dan JPIC Keuskupan Ruteng, minggu lalu (22-24 November 2013), dengan tema besar 'Ekologi dan Jurnalistik', secara pribadi seolah-olah menyadarkan saya bahwa Indonesia, khususnya gereja Katolik, masih menyimpan optimisme, meski harapan itu dimiliki oleh anak-anak, remaja, dan kaum muda lainnya. Bahwa ternyata, gereja Katolik mampu memberi sumbangsih dan karya nyata bagi Indonesia. 

Kesan yang muncul di akhir kegiatan adalah kisah-kisah inspirasi, tentang sebuah pembiasaan diri terhadap hal-hal baik, entah itu terhadap lingkungan maupun aktivitas menulis. Terlepas dari sifatnya yang sekadar training singkat, kegiatan ini bisa dipakai untuk membaca situasi kehidupan gereja dan anak-anak di Indonesia, khususnya Ruteng, dalam proses hidup bersama alam dan lingkungan.

Saya teringat akan kisah salah satu pastor yang membaktikan hidupnya untuk kegiatan pelestarian lingkungan di Kalimantan. Ialah Pastor Samuel Oton Sidin yang tergerak untuk memulihkan lahan kritis di Pontianak. 

Yang mengagumkan dari usaha sang pastor bukan kesuksesannya dalam mengolah lahan kritis menjadi lahan yang bertumbuh aneka tanaman. Tapi ketegarannya untuk terus bekerja, ketika usahanya kurang mendapat perhatian dari warga sekitar. Sang pastor yang visioner ini tidak melihat hasil kekiniannya, tapi prospek jangka panjangnya. Dia yakin, jerih payahnya akan dinikmati anak-anak masa depan. 


Pastor Samuel bekerja atas dasar kerusakan yang ditimbulkan deforestasi. Dialah figur yang menerapkan filsafat kenalilah lingkunganmu untuk hidup lebih arif dan tak destruktif. Dia mencoba sintas, survive, dengan menanam, mengolah tanah, dan beternak. 

Memang tak semua kebutuhan hidupnya dipenuhi oleh alam sekitarnya, tapi setidaknya dia melakukan perlawanan terhadap intrusi produk manufaktur. Dia masih mengikat tidak dengan tali rapiah, tapi tali yang dibuatnya sendiri dari pelepah pisang. Atap dari rumbai masih bertahan di kediamannya yang sebagian besar materinya didapat dari alam sekitar. 

Itu pastor Samuel. Mungkin teman-teman di Ruteng masih atau pernah mendengar nama Nicodemus Manu. Ia mewarnai hidupnya dengan menjaga kelestarian terumbu karang di ranah laut Pulau Flores. Profesi utama Nico sebagai Kepala Konservasi Sumber Daya Alam di Taman Wisata Alam Laut Riung, Pulau Flores. Tapi kecintaannya pada alam itulah yang membuat Nico gigih bekerja untuk menyelamatkan terumbu karang dan biota di laut. Dengan kecintaan semacam itu, Nico tak perlu menggugat, sedikitnya bertanya, apakah gaji yang diterimanya sepadan dengan pengorbanan yang dilakukannya dan risiko yang dihadapinya dalam menjalankan tugasnya.

Kisah inspiratif tentu tak cuma di wilayah nun jauh dari pusat kekuasaan dan kebijakan, atau yang sudah terbingkai dalam sebuah kabar yang menarik. Apa yang disajikan dalam training singkat oleh Komisi KKI dan JPIC ini pun bisa menjadi cikal bakal kisah inspirasi masa depan anak cucu kita. 

Dunia mencatat, bahwa inspirasi selalu datang saat kita berupaya dan melakukan sesuatu. Tugas utama kita sebagai bagian dari hidup gereja, tentu bukan menginspirasi. Tugas utama kita adalah berupaya dalam kebaikan. 


Berupaya dalam kebaikan adalah tugas utama demi kehormatan sebagai seorang manusia dan gereja. Ya, kehormatan manusia dan gereja!

Ketika anak-anak, dan remaja mulai peduli dengan alam dan lingkungan kecilnya; ketika anak-anak, dan remaja mulai menulis tentang perasaan, pikiran, dan kehidupannya; dan ketika anak-anak, dan remaja menuliskan persahabatannya dengan alam dan lingkungannya, maka saat itulah inspirasi kehidupan lahir. 

Ide, keterlibatan, hasil, dan karya anak-anak dan remaja, para peserta kegiatan training singkat kemarin, bagi saya, adalah kisah inspiratif yang tercatat dalam sebuah 'buku besar'. 'Buku besar' tentang sejarah peradaban manusia dan gereja, khususnya di Keuskupan Ruteng. 

Sebuah kisah inspiratif dari manusia-manusia terhormat, yang menjaga kehormatannya itu dengan cara mereka masing-masing, dari usia sedini mungkin, namun memiliki satu titik temu, atau benang merah yang bernama keutamaan atau kebajikan. Ini adalah cara mereka merayakan kehidupan.

Ide dan pengalaman Romo Marten Jenaru adalah inspirasi besar.
Ide dan pengalaman Romo Luis Jawa adalah inspirasi besar.
Keterlibatan dan keinginan belajar para peserta adalah inspirasi besar.
Berikutnya, inspirasi-inspirasi besar ini mesti dituangkan dalam sebuah catatan perjalanan, sehingga semua orang bisa ikut merayakan kehidupan dari inspirasi kecil kegiatan ini. 

0 komentar:

Poskan Komentar