Every day, God thinks of you. Every hour, God looks after you. Every minute, God cares for you. Because, every second He loves you.
RSS

Rabu, 13 November 2013

Pengampunan

Mengampuni adalah tugas pelayanan termudah untuk diucapkan, namun terberat untuk dilakukan. Mengampuni membutuhkan kekuatan hati dan emosi, kemampuan untuk mendengar, dan terpenting adalah keluasan hati serta pikir untuk memaafkan. 

Berikut ini inspirasi bagi kita semua, akan arti sebuah pengampunan...


Saat Abraham Lincoln (1809-1865) masih menjadi seorang pengacara muda, ia sering berkonsultasi dengan pengacara lain tentang berbagai macam kasus yang ditanganinya. Suatu hari, ia duduk di ruang tunggu untuk menjumpai seorang pengacara senior. Tapi, ketika tiba waktunya, pengacara itu hanya melihat Lincoln sekilas dan berteriak, “Apa yang dia lakukan di sini? Singkirkan dia! Aku tidak akan berurusan dengan seekor monyet kaku!”


Lincoln berpura-pura tidak mendengar, walaupun dia tahu kalau hinaan itu disengaja. Biarpun malu, dia tetap bersikap tenang. Kemudian ketika pengadilan berlangsung, Lincoln diabaikan. Namun pengacara yang telah menghina Lincoln dengan begitu kejamnya, ternyata bisa membela kliennya dengan brillian. Penanganannya atas kasus itu membuat Lincoln terpesona. Katanya dalam hati, “Nalarnya sangat bagus. Argumennya tepat dan sangat lengkap. Begitu tertata serta benar-benar dipersiapkan! Aku akan pulang dan lebih giat belajar hukum lagi.”

Waktu berlalu…

Lincoln menjadi presiden Amerika Serikat pada bulan Maret 1861. Di antara kritikus utamanya, terdapat Edwin M. Stanton, pengacara yang pernah menghinanya dan melukai hatinya begitu dalam. Namun Lincoln mengangkatnya di posisi penting sebagai Sekretaris Perang. Ia tidak pernah lupa bahwa Stanton adalah pengacara berotak cerdas, yang amat dibutuhkan negaranya.

Saat Lincoln meninggal, Stanton berkata, “Dia merupakan mutiara milik peradaban.”


Hanya seseorang yang berkarakter dan mau memaafkan, yang dapat bangkit dan berhasil di atas penghinaan! Maka, jaga suasana hati! Jangan biarkan sikap buruk orang lain menentukan cara kita bertindak. Pilih untuk tetap berbuat baik dan belajarlah memafkan. Jadikan “sampah” sebagai “pupuk” atau “bahan bakar” untuk maju, baik di lingkungan keluarga, kerja, tempat tinggal, atau karya kita untuk Tuhan.

0 komentar:

Poskan Komentar