Every day, God thinks of you. Every hour, God looks after you. Every minute, God cares for you. Because, every second He loves you.
RSS

Minggu, 10 November 2013

The Sekami Dream

Sahabat sekalian mungkin pernah mendengar yang namanya The American Dream. ‘The American Dream’ adalah sebuah ungkapan sangat populer yang menggambarkan etos bangsa Amerika dalam melakukan mobilitas sosial untuk menggapai puncak kesuksesan terlepas dari kelas, kasta, ras, agama, atau dari etnik mana mereka berasal. Dalam karya klasiknya Epic of America (1931), penulis James Truslow Adams mendefinisikan The American Dream sebagai berikut:

“Life should be better and richer and fuller for everyone, with opportunity for each according to ability or achievement, regardless of social class or circumstances of birth.”

Dengan spirit ‘all men are created equal’, setiap rakyat Amerika, apapun latar belakang mereka, punya kesempatan yang sama untuk menjadi milyarder, bintang Hollywood yang moncer di seluruh jagad, atau tokoh politik yang berlimpah kekuasaan. Karena itu The American Dream kemudian menjadi sebuah obsesi bagi setiap rakyat Amerika dalam berjuang melakukan mobilitas sosial. Obsesi ini mulai menjadi populer setelah Great Depression tahun 1930-an dan mencapai critical mass menyusul berakhirnya Perang Dunia II yang kemudian diikuti boom ekonomi Amerika Serikat.

Sosok-sosok ‘rakyat jelata’ yang berjuang dari nol hingga menjadi tokoh sukses (from zero to hero) biasanya didapuk sebagai ikon dari The American Dream. Sebut saja tokoh-tokoh hebat, seperti Sam Walton, Elvis Presley, Michael Jackson, Mohammad Ali, Michael Jordan, Bill Gates, Steve Jobs, Donald Trump, Barrack Obama, Oprah Winfrey, hingga Mark Zuckerberg. Mereka sering disebut sebagai ikon-ikon yang sukses mewujudkan The American Dream, karena kerja keras sampai titik darah penghabisan. Mereka ini adalah pribadi-pribadi yang menurut istilah saya mempunyai heroic leadership.

#The Chinese Dream
Seiring dengan munculnya keajaiban ekonomi China, ide The American Dream pun kemudian diekspor ke negeri Tirai Bambu ini. Seperti kita tahu, selama 15 tahun terakhir China menikmati pertumbuhan yang luar biasa. Kalau pada tahun 1995 pendapatan perkapitanya hanya sekitar $600, tahun lalu telah naik hingga 10 kali lipat di atas $6000. Dalam kurun waktu yang sama, proporsi masyarakat kelas menengahnya (dengan pengeluaran rata-rata sehari sebesar $2-20) meroket dari 55% menjadi di atas 90%.

Kemajuan ekonomi yang luar biasa itu mendorong rakyat China memiliki obsesi mobilitas sosial, persis seperti yang terjadi di Amerika. The Chinese Dream dalam bentuk obsesi untuk menjadi kaya raya kini melanda masyarakat China. Dalam bukunya, The Chinese Dream, Helen Wang menemukan bahwa kalangan kelas menengah China kini banyak yang terobsesi oleh apa yang ia sebut ‘The Chinese Dream’ yang menjadi simbolisasi masyarakat mengenai kesuksesan yang ideal: memiliki rumah besar, mobil mewah, rekening gendut, dan hidup bergelimang harta.

Tak heran jika kelas menengah China sangat American-minded. Ujar Helen Wang,

“Many middle class Chinese are influenced by the American way of life. They are bombarded by many material temptations and proliferating choices. TV commercials, the Internet, and Hollywood movies give them a rosy picture of the American middle class.”

Sosok-sosok sukses bergelimang harta seperti Bill Gates atau Mark Zuckerberg selalu mengiang-ngiang, menggoda otak dan sanubari mereka.

Peluang ekonomi luar biasa yang muncul akibat era keemasan China menjadikan masyarakat di negeri Panda ini tak mau kehilangan momentum berharga untuk mendongkrak status sosial ekonomi. Mereka yang menjadi profesional bekerja keras hingga larut malam untuk mendapatkan promosi dan kenaikan gaji. Sementara mereka yang membangun usaha berjuang keras untuk mencari peluang-peluang agar bisnisnya mereka maju pesat. Hanya satu ‘agama’ mereka, yaitu: ‘S-U-K-S-E-S’.

#Obsesi Kaya Raya 
Nah, melihat perkembangan ekonomi Indonesia yang luar biasa sejak 5 tahun terakhir, saya mengamati, The American Dream rupanya tak hanya memengaruhi China, tapi juga mulai merasuki masyarakat kelas menengah Indonesia. Spirit masyarakat kelas menengah kita untuk berjuang menaikkan status sosial kini sedang hot-hot-nya. Mereka berlomba-lomba bekerja keras untuk mewujudkan mimpi mencapai kemapanan ekonomi. Mereka terobsesi untuk mewujudkan ‘The Indonesian Dream’.

Tak mengherankan jika hampir semua hasil survei terhadap konsumen kelas menengah yang dilakukan akhir tahun lalu, menghasilkan temuan yang mengkonfirmasi hal ini. Mengambil istilah dari buku Yuswohady, C3000, dari delapan segmen konsumen kelas menengah yang diidentifikasi, dua segmen dengan ukuran terbesar yaitu climber (21,5%) dan performer (18%) adalah kelompok masyarakat yang berorientasi menaikan status sosial dan kesuksesan ekonomi. Mereka terobsesi oleh The Indonesian Dream: rumah besar, mobil mewah, rekening gendut, hingga hidup bergelimang harta.

Saya punya contoh gampang betapa obsesi The Indonesian Dream itu telah merasuki masyarakat kita. Pertama adalah seminar. Coba buka koran, lalu cari apa saja jenis seminar yang sedang hot dan diminati masyarakat? Pasti Anda akan mendapati bahwa yang diminati masyarakat tak jauh-jauh dari seminar motivasi dan workshop yang memberikan trik-trik jitu untuk menjadi kaya-raya. Bisa melalui jual beli saham, investasi emas (ups… banyak yang tertipu!?!), atau tentu yang paling hot adalah melalui jual-beli properti.

Yang paling ideal tentu adalah obsesi menjadi kaya raya diwujudkan melalui kerja keras dan ketekunan. Dan itulah yang juga saya lihat kini terjadi di Indonesia. Setidaknya di Jakarta dan berbagai kota besar di Indonesia, coba saja lihat di gerai-gerai Starbucks, McCafe, atau 7-Eleven pada pukul 12 malam atau 1 dini hari. Di situ kita temui gerai tersebut penuh sesak orang-orang yang sibuk bekerja: ada yang bersibuk ria dengan laptopnya, ada yang sedang meeting, atau ada yang mendiskusikan pekerjaan atau bisnis dengan kolega.

Karena itu saya berharap, seperti halnya yang terjadi di Amerika dan China, obsesi The Indonesia Dream ini akan menjadi ‘lokomotif’ dari kemajuan ekonomi Indonesia di tengah momentum revolusi kelas menengah dan bonus demografi beberapa tahun ke depan. Ketika semua orang berpikir untuk melakukan mobilitas sosial untuk menaikan kualitas hidupnya, maka daya kreasi, inovasi, kewirausahaan, dan etos kerja keras akan tumbuh subur di negeri ini. Ketika semua orang di negeri ini optimis dan percaya diri bahwa kehidupan mereka akan lebih baik di masa depan, maka itu merupakan ‘bahan bakar’ yang luar biasa bagi negeri ini untuk menggulirkan sosio-ekonomi lebih kencang lagi.

Nah, apa korelasi dengan dunia anak, khususnya Sekami dalam konteks pelayanan gereja?
Tentu saja seperti yang saya katakan di atas, The Indonesian Dream ini harus menjadi ‘lokomotif’ segala kemajuan, termasuk kemajuan spiritualitas dan mentalitas (emosional). Anak-anak, khususnya aktivitas Sekami harus mampu menggali daya kreasi, daya juang pantang menyerah, kedisiplinan, etos belajar dan kerja yang excellent, bahkan juga melahirkan jiwa kewirusahaan yang luar biasa. Setiap anak Sekami, mulai sekarang harus mempunyai impian besar, yang bisa menjadi ‘bahan bakar’ unlimited untuk setidaknya menciptakan semangat dan memengaruhi hidup mereka secara positif.

Kenapa harus sejak anak dan remaja?
Yups… benar sekali, segala sesuatu pasti selalu ada sisi gelapnya. Barangkali korupsi adalah sisi gelap dari The Indonesia Dream. Terus terang saya curiga, kenapa para koruptor kita selalu punya semangat baja pantang-menyerah untuk mengkorupsi harta negara. Saya juga heran kenapa para koruptor itu tak kunjung punya budaya malu menyunat uang rakyat, padahal sudah puluhan bahkan ratusan koruptor dijebloskan ke penjara dan diekspose di TV besar-besaran.

Kesimpulan sementara saya hanya satu: barangkali budaya malu itu terkalahkan oleh obsesi The Indonesian Dream yang begitu membara di hati para koruptor… obsesi untuk punya rumah besar, mobil mewah, rekening gendut, hidup bergelimang harta. Uppsss

Dan akhirnya, saya hanya bisa berharap bahwa The Indonesian Dream ini bisa menular ke kalian, anak-remaja Katholik dalam wadah Sekami, Mudika, atau apapun. Bahkan, bisa jadi The Sekami Dream bisa menjadi inspirasi lahirnya The Flores Dream. Dahsyat...
Mari ciptakan The Sekami Dream atau apapun istilahnya, yang lebih positif dan balance antara impian duniawi, mental, dan spiritual.


Think Big Start Small…

0 komentar:

Poskan Komentar