Every day, God thinks of you. Every hour, God looks after you. Every minute, God cares for you. Because, every second He loves you.
RSS

Kamis, 28 November 2013

Menjadi Sebab, Bukan Akibat: Belajar dari Perseteruan Farhat Abas dan Al-El

Hari-hari terakhir ini, saya mulai muak melihat pemberitaan media, khususnya di pagi hari. Bagi saya pagi hari adalah awal kita berbagi energi dan inspirasi positif pada sesama. Tapi, kisah perseteruan antara orang tua bermental kanak-kanak bernama Farhat Abas (suami Nia Daniaty) dengan kakak beradik, anak musisi Ahmad Dhani, Al dan El, sungguh menguji proses pendewasaan emosi dan spiritualitas saya sebgai manusia. 

Manusia memang sering bertindak keterlaluan, tidak logis, dan hanya mementingkan diri sendiri; tapi bagaimanapun, Sang Pemaaf mengajarkan pada kita memaafkan mereka...

Bila kita baik hati, bisa saja orang lain menuduh kita punya pamrih;
tapi Sang Mahabaik berkata, bagaimanapun berbaik hatilah...

Bila kita sukses, kita akan mendapatkan beberapa teman palsu, dan beberapa teman sejati; tapi Sang Pemberi Rezeki berkata, bagaimanapun jadilah sukses...

Bila kita jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipu kita;
tapi Sang Mahapengasih bekata, bagaimanapun jujur dan terbukalah...

Bahkan bila apa yang kita bagun selama bertahun-tahun, mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam; Sang Mahamurah berkata, bagaimanapun bangunlah...

Bila kita mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja orang lain menjadi iri; tapi Sang Pemberi Kebahagiaan berkata, bagaimanapun berbahagialah...

Dan lagi-lagi bila kebaikan yang kita lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; Sang Mahabaik berkata, bagaimanapun berbuat baiklah...
Kita selalu diingatkan, bagaimanapun berikan yang terbaik dari diri kita.
Kita lihat, akhirnya ini adalah urusan antara kita dengan Tuhan kita;
bagaimanapun ini bukan urusan antara kita dengan mereka, bukan urusan manusia dengan manusia, bukan antara selebritis dengan selebritis, bukan antara mereka yang tua dengan yang muda, tapi sekali lagi, antara kita dengan Tuhan.

Inilah alasan kenapa saya mengatakan, jadilah sebab dari semua hal yang terjadi pada diri dan hidup kita; karena bagaimanapun kita akan mendapatkan banyak pelajaran hidup sebagai akibatnya.

Karena bagi saya, inilah keindahan menjadi manusia. Mmanusia yang utuh, bukan sekadar dewasa atau kanak-kanak.

Kita ini adalah penyempurna karya Tuhan.Meski kita bukan kesempurnaan, kita hanyalah catatan kecil dalam sebuah buku cerita kehidupan, dengan Tuhan sebagai penulisnya.

Semoga esok hari, saya tidak melihat perseteruan, pertikaian, permusuhan, dan perkelahian hanya karena besarnya keinginan diri manusia. Semoga pagi hari selalu menjadi awal manusia untuk saling menginspirasi dan membawa kebaikan.

Semoga!

0 komentar:

Poskan Komentar