Every day, God thinks of you. Every hour, God looks after you. Every minute, God cares for you. Because, every second He loves you.
RSS

Minggu, 03 November 2013

25 Tahun Karya Sr. Gabriella, CB Menuai Terang dari Lentera Jiwa

Tahun ini, tepatnya 2 Oktober 2013, adalah perayaan 25 tahun karya pelayanan Sr. Gabriella, CB sebagai seorang biarawati. Jika kita ibaratkan, menjadi seorang biarawa/biarawati bagi gereja sebagai sebuah proyek, maka ini adalah sebuah ‘proyek percontohan berbiaya mahal’ tentang bagaimana memberdayakan potensi diri untuk melayani sesama. Bisa dikatakan, proyek mercusuar di tengah kondisi spiritualitas bangsa ini yang semakin amburadul tidak keruan. Tapi, usia 25 tahun (pesta perak) ini pun bisa menjadi oasis di tengah kerinduan akan keraguan eksistensi umat Katolik secara umum di Indonesia, khususnya di Keuskupan Ruteng. Dahsyat, Sr. Gabriella, CB (dan mungkin juga biarawan/biarawati yang lain) bisa bertahan hingga sekarang!

Pertanyaan besarnya adalah, apakah Sr. Gaby (demikian akrab disapa) sekadar bertahan dan bertahan? Apa tidak mungkin untuk kemudian bertumbuh dan berkembang (tentu dalam konteks kaderisasi)? Ini dia yang harus dijawab dengan tuntas melalui sebuah pemikiran dan kerja yang tidak saja komprehensif, namun juga integrated.


Harus diakui, kita memang bangsa yang piawai membikin dan mencetak (termasuk mencetak biarawan/biarawati), tapi celakanya kita tidak pandai memasarkannya. Lebih celaka lagi, kita juga ceroboh menjaga bikinan nenek moyang. Itu sebabnya, banyak biarawan/biarawati keluar dari ‘penggilan’ hati dan lentera jiwanya sebagai pelayan Tuhan, bahkan tidak jarang kita temui, banyak dari mereka yang pada akhirnya meninggalkan Tuhan.

Namun, coba tengoklah dengan mata hati yang jujur dan tulus akan capaian pelayanan Sr. Gaby dan biarawan/biarawati lainnya hingga usia perak saat ini, bukan sebatas sebagai sebuah keharusan dan kewajaran dalam berkarya dalam nama Tuhan. Pesta perak ini harus dijadikan momentum untuk membuktikan bahwa Sr. Gaby dan biarawan/biarawati lainnya adalah komunitas kecil yang siap memasarkan gereja ke seantero jagat, dengan cinta kasih.


"Lupakan popularitas, lupakan kepentingan pribadi apalagi kelompok, dan fokus pada kampanye untuk menyelamatkan umat manusia dan gereja..."

Tulisan ini adalah catatan kecil kami tentang kiprah Sr. Gaby selama kami mengenal beliau, seorang pribadi yang bagi kami telah menemukan ‘lentera jiwa’-nya. Lentera jiwa sebagai pelayan Tuhan di tengah tingginya hedonisme manusia modern saat ini.

Sebagian orang mengatakan dalam hal pekerjaan, mereka lebih mencari ‘aman’ dengan menjadi karyawan di buah perusahaan maupun lembaga pemerintahan, karena risikonya kecil. Sementara orang lain, mengaku lebih memilih berwirausaha daripada bekerja untuk orang lain dan tidak bahagia. Lentera jiwa seperti ini, oleh mereka dimaknai sangat sempit: Siapa yang bekerja untuk dirinya sendiri, merekalah yang sudah menemukan lentera jiwanya. Sementara mereka yang bekerja sebagai pegawai perusahaan atau instansi pemerintah, adalah mereka yang belum menemukan lentera jiwa mereka.

Menerjemahkan lentera jiwa secara sempit seperti itu sungguh menyesatkan. Lentera jiwa seseorang tidak ditentukan oleh apakah dia bekerja untuk orang lain sebagai karyawan atau bekerja untuk diri mereka sendiri. Lentera jiwa seseorang juga tidak ditentukan oleh jabatan, pangkat, gaji, atau jenis pekerjaan. Siapapun dia, apapun pangkatnya, jabatannya, dan apapun jenis pekerjaa serta berapa pun gajinya, dia bisa saja menemukan lentera jiwanya.

Pangkat tinggi, posisi di puncak, dan gaji besar bukan ukuran yang dipakai untuk menilai apakah seseorang sudah menemukan lentera jiwanya atau belum. Banyak yang memiliki kedudukan tinggi, gaji besar, ternyata tidak bahagia dalam pekerjaannya. Kalaupun dia tetap bertahan, lebih karena faktor rasa aman, tidak berani mengambil risiko, atau sudah pada tahap ‘nrimo’ atas nasibnya. Orang semacam ini belum menemukan lentera jiwanya.

Ukuran paling sederhana untuk mengukur apakah dalam berkarya, dalam bekerja, kita sudah menemukan lentera jiwa kita atau belum adalah kebahagiaan. Apakah dalam mengerjakan tugas kita sehari-hari kita bahagia? Tidak peduli apakah kita bekerja sebagai karyawan atau wirausaha, apakah kita bahagia? Tidak peduli gaji kita kecil atau besar, apakah kita senang mengerjakan tugas yang diberikan kepada kita? Apakah kita mengerjakannya dengan hati atau sekadar demi mempertahankan hidup?

Suatu hari, kami berkesempatan ngobrol dengan Sr. Gaby tentang antusiasme beliau dalam pelayanan gereja, melalui pendampingan terhadap anak-anak Sekami, selain aktivitas utama beliau sebagai Direktur Karya Kepausan Indonesia Keuskupan Ruteng dan seabrek aktivitas lainnya. Kami sangat penasaran, karena kami melihat antusiasme Sr. Gaby dalam pendampingan itu, bahkan di saat kondisi fisik tidak mendukung sekalipun. Bukankah pekerjaan melayani dan mendampingi anak-anak itu adalah pekerjaan yang merepotkan dan melelahkan? Bahkan jika dilengkapi dengan fakta bahwa Sr. Gaby setiap hari harus bolak-balik Ruteng-Mano dengan medan yang bagi sebagian orang tentu sangat menegangkan. Sr. Gaby balik menatap kami dengan pandangan aneh. ‘Saya senang, kok, mengerjakannya,’ ujar suster pada saya.

Obrolan singkat itu bagi kami tentu penuh makna. Obrolan itu bisa menunjukkan lentera jiwa itu bukan milik mereka yang berkedudukan tinggi, bergaji besar, dan hidup dalam kemewahan. Jika kita bekerja sebagai pegawai negeri, dan kita bahagia mengerjakan tugas-tugas kita, dan pekerjaan itu sesuai dengan cita-cita kita sewaktu sekolah dulu, boleh jadi kita sudah menemukan lentera jiwa kita. Begitu pula kita yang keluar dari pekerjaan kita sebagai karyawan, dan mengambil risiko meninggalkan kedudukan dan gaji tetap kita, untuk merintis usaha yang kita sukai dan ternyata membuat kita bahagia, bisa jadi kita juga sudah menemukan lentera jiwa kita.

Bahkan bagi Sr. Gaby dan biarawan/biarawati lainnya, mengambil risiko hidup dalam totalitas pelayanan kepada Tuhan tentu bukan sesuatu yang mudah. Namun jika itu membuat Sr. Gaby dan biarawan/biarawati bahagia, bukan sebagai sebuah kewajaran dan keharusan, bisa jadi itulah penemuan lentera jiwa bagi Sr. Gaby dan kolega.

Pertanyaan selanjutnya, apakah setiap orang harus dan bisa menemukan lentera jiwanya? Jawabannya relatif. Ada yang sudah tahu lentera jiwanya ada di tempat lain, bukan menjadi biarawan/biarawati, namun tidak berani atau tidak mampu menggapainya. Tidak mampu atau tidak berani karena risiko yang dihadapi terlalu tinggi. Ada juga yang sampai sejajuh ini belum mengetahui secara persis apa lentera jiwanya. Bahkan mungkin hingga usia pelayanan lebih dari 10 tahun sekalipun. Dia belum menemukan jawaban apa yang membuatnya bahagia dan bergairah untuk menjalaninya.

Lentera jiwa bukan persoalan salah atau benar. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang benar di sini. Persoalannya hanya pada keinginan kita untuk mencari dan memaknai kebahagiaan sebagai manusia. Dalam konteks ini adalah pelayanan bagi umat dan gereja. Namun, untuk mencapai kebahagiaan tersebut kadang seseorang harus menempuh risiko.

Yups… selalu ada harga yang harus dibayar dari setiap pilihan yang kita ambil, salah satunya risiko. Itu kenapa saya analogikan di awal tulisan ini, bahwa seandainya pilihan hidup menjadi biarawan/biarawati adalah sebuah proyek, maka itu adalah sebuah ‘proyek mercusuar yang berbiaya mahal’. Tetapi seperti yang dikatakan Sr. Gaby pada saya, ‘Ada sesuatu dalam hati ini yang selalu mengganggu. Sesuatu yang terus mendorong saya untuk mendapatkan ‘sesuatu’. Sesuatu yang membuat saya merasa bahagia…’ Mungkin itu yang Sr. Gaby sadari  bahwa ‘sesuatu’ itu adalah ‘lentera jiwa’-nya.

Balik ke pertanyaan besar di awal tulisan ini, apakah Sr. Gaby sekadar bertahan dan bertahan? Tentu tidak tepat jika pertanyaan itu hanya dijawab oleh Sr. Gaby sendiri. Ini mesti menjadi refleksi kita semua yang hidup di sekitar beliau. Harus ada kekuatan besar yang mampu mendorong lahirnya Sr. Gaby-Sr. Gaby baru. Pribadi-pribadi baru yang tangguh, tidak cengeng, tidak mengerdilkan diri dengan menutup segala lentera jiwanya, dan tentu yang lebih penting adalah mereka yang mau berkarya dalam totalitas pelayanan bagi sesama dan gereja, tidak peduli apapun ‘pakaian dan jabatannya’, tapi mereka yang memikirkan manusia dan gereja dalam hidupnya.

Inilah esensi dari pelayanan kepada Tuhan.

Apakah kita sedang bermimpi?
Barangkali! Tapi ingat, karya besar seringkali berawal dari secuil mimpi!

Akhir kata, HAPPY 25th ANNIVERSARY Sr. GABRIELLA, CB.
Semoga perayaan pesta perak ini menjadi momentum bagi kita semua untuk bisa menemukan lentera jiwa kita, seperti yang diteladankan Sr. Gaby selama ini, dan untuk kemudian bisa membawa setiap pribadi ke arah hidup yang lebih baik.


Salam kasih dari kami semua. 

0 komentar:

Poskan Komentar