Every day, God thinks of you. Every hour, God looks after you. Every minute, God cares for you. Because, every second He loves you.
RSS

Minggu, 10 November 2013

Otak Kanan yang Makin Dahsyat

Otak kanan seharusnya menjadi andalan bagi animator atau pendamping anak dan kaum muda (Katholik). Bahkan segala sesuatu yang dilakukan oleh animator harusnya dimulai dari bagian ini. Bagaimana cara mengasah otak kanan?

Penelitian akan penggunaan otak kanan semakin banyak dibahas. Pergeseran perhatian orang dari IQ (intellectual quotient) menjadi EQ (emotional quotient) mulai menjadi titik awal bagaimana otak kanan dianggap memiliki potensi terbesar dalam keberhasilan seseorang. Termasuk pula dalam sistem pendidikan di Indonesia, yang dianggap kurang mengasah perkembangan otak kanan. Itulah sebabnya pendidikan di Indonesia dapat membuat orang pintar, namun tidak kreatif. Akan tetapi, kini mulai banyak orang yang tersadarkan akan pentingnya otak kanan. Bukan apa-apa, dalam era kompetisi yang semakin menghebat, setiap orang tidak hanya dituntut pintar, namun juga diharuskan memiliki kemampuan dalam berkreasi dan berimprovisasi sehingga semakin membumikan atau memanusiakan pikiran-pikiran yang ada di otak kiri.

Seperti mereka yang bergerak di bidang marketing, para penggerak dan pembina anak dan kaum muda, otak kanan jelas harus banyak dipergunakan. Sekalipun Peter Fisk dalam bukunya Marketing Genius juga ‘mewanti-wanti’ agar para marketer jangan terlalu ‘kebablasan’ dalam mempergunakan otak kanan. Sebab, kreativitas yang muncul nanti bisa tidak sesuai dengan kebutuhan pasar lantaran tidak mempergunakan otak kiri untuk menganalisa kebutuhan konsumen.

Dunia anak dan remaja banyak memulai sesuatu dari otak kanan. Sebagai contoh, dalam new program development, tahap paling awal adalah idea generation, dan itu berarti memulai dengan otak kanan, karena kreativitas hanya ada di otak kanan. Demikian pula dalam pengembangan program, otak kananlah yang harus banyak berfungsi.


Jika di setiap training marketing saya sering mencontohkan bagaimana marketer kini tidak boleh hanya memanfaatkan core product. Dalam persaingan, marketer harus memperluas core product menjadi tangible product dan augmented product. Artinya, produk tersebut harus lebih banyak berbicara tentang konteks dibandingkan kontennya. Apalagi, konsumen Indonesia, lebih cenderung context oriented. Artinya, mereka ini lebih tertarik pada ‘bungkus’-nya bukan pada isi. Oleh karenanya, penggunaan otak kanan dalam membungkus produk dengan konteks harus semakin dipergunakan. Hal ini juga berlaku bagi pengembangan dunia anak dan remaja.

Hal lain yang harus diperhitungkan dalam pengembangan dunia anak dan remaja dewasa ini sebenarnya adalah visualisasi, yang lebih menggambarkan sesuatu dibandingkan tulisan. Semakin banyaknya informasi dan komunikasi yang membombardir anak dan remaja, membuat bahasa visual lebih efektif untuk dikedepankan. Visualisasi membuat anak dan remaja lebih bisa menerima dan mencerna dengan cepat komunikasi dan content yang ingin disampaikan.

Para animator kini seharusnya juga semakin membutuhkan dunia entertainment, seperti film dan musik untuk bisa mendukung pengembangan pendampingan dan proses belajar anak dan remaja. Semuanya itu membutuhkan kreativitas yang brilian dari animator. Di sinilah otak kanan juga harus bekerja. Oleh karena itu, mau tidak mau, para animator harus selalu mengasah otak kanannya supaya bisa menciptakan inovasi-inovasi baru. Apalagi kini para animator seperti dituntut untuk bisa menemukan dan menjalankan blue ocean strategy, layaknya dalam dunia bisnis. Salah satu ciri utama penerapan blue ocean strategy adalah lahirnya produk atau program yang out of the box. Ini semakin ‘memaksa’ para animator untuk mencoba mengoptimalkan otak kanan, bahkan mungkin melebihi pengoptimalan otak kiri yang selama ini sudah terlalu sering dieksploitasi.

Pertanyaan yang muncul kemudian tentunya adalah, bagaimana cara kita mengasah otak kanan? Ada beberapa tes yang bisa dilakukan untuk mengukur sejauh mana Anda bisa mempergunakan otak kanan. Di internet misalnya, cukup banyak situs yang memberikan cara untuk melakukan tes otak kanan, seperti bagaimana kita memvisualisasikan gambar dua dimensi menjadi tiga dimensi, atau satu gambar tiga dimensi divisualisasikan menjadi dua atau lebih jenis gambar tiga dimensi lainnya, dan berbagai jenis tes lainnya.

Memang sepertinya terlihat sederhana, namun mengasah otak kanan bukanlah pekerjaan yang mudah. Hal ini sama dengan ketika ingin meningkatkan atau mendapatkan wisdom dalam diri kita. Wisdom akan semakin terasah dan teruji, jika kita semakin banyak pengalaman (bukan faktor usia), lebih banyak knowledge yang telah kita olah, dan yang lebih penting knowledge yang telah kita dapatkan tersebut kita aktualisasikan menjadi sebuah experience.

Sistem pendidikan yang terlalu lama memengaruhi kehidupan orang Indonesia, dengan otak kiri yang menjadi panglima, membuat upaya memberdayakan otak kanan menjadi tidak mudah. Untuk mengatasi hal ini, saya ada beberapa tips, misalnya biasakanlah untuk melihat apa yang tidak terlihat. Artinya, gunakan imajinasi lebih sering dari biasanya. Karena imajinasi merupakan cikal bakal realitas. Oleh karena itu, biarkan imajinasi berjalan dulu baru pikiran mencari jalan untuk mewujudkannya.

Imagination is more important than knowledge.
Knowledge is limited, imagination encircles the world.- Albert Einstein -

Selain itu, para animator jangan pernah canggung dengan segala bentuk sintesis. Menurut saya, ada lima pola pikir yang bisa membentuk otak kanan. Pertama, adalah generalis, yakni mencoba untuk menguasai berbagai hal dan menyimpan gagasan sekaligus di otak sekalipun berlawanan. Kedua adalah crosser, yakni meninggalkan satu bidang ke bidang lain. Meninggalkan satu kebiasaan menuju kebiasaan lain dan baru yang lebih baik. Ketiga, tricker, yakni mencoba gesit dalam menyongsong ketidakteraturan, ketidakurutan, bahkan ketidakpastian. Keempat, connector, yakni menghubungkan sesuatu yang semula tidak ada hubungannya, menjadi ter-connected. Kelima, detector, yakni mencoba mengurai sesuatu yang kompleks hingga bisa melihat apa yang tidak dilihat kebanyakan orang.


Jadi, para animator yang kreatif harus terbiasa menggunakan otak kanan, mempergunakan pikiran secara holistik, menyebar, serentak dan acak (lateral). Bagaimana dengan Anda?

0 komentar:

Poskan Komentar